Taman Bunga di Balik Awan

Para peri di negeri itu menyebutnya Taman Bunga di Balik Awan. Taman bunga yang indah. Beberapa pohon besar yangmelindungi isi taman dari teriknya matahari. Berjuta kupu-kupu yang hidup di taman itu untuk mengambil sari-sari bunga yang setiap hari mekar. Kumbang dimana – mana yang berterbangan menandakan taman bunga itu subur.  Ulat yang menggeliat di setiap batang pohon tanpa membuat para peri merasa geli.

Sesekali para peri itu terbang kejar-kejaran seperti anak kecil yang baru saja melihat komidi putar dan bergegas ingin segera menaikinya.

“ hey, kau! Ayo kejar aku, hihihi “ teriak seorang peri yang ingin di kejar.

“ awas kau ya. “ teriak peri yang lain.

Layaknya permainan kejar-kejaran anak-anak kecil, tapi bedanya mereka berlari tidak menggunakan kaki, tapi sayap.

Kemanapun peri-peri itu terbang, di belakang mereka menyisakan seberkas cahaya samar-samar seperti kembang api di malam pergantian tahun. Kehidupan mereka terlihat begitu bahagia tanpa secoreng beban dan masalah.

Hingga di suatu hari tempat yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh manusia ini, di datangi oleh seorang pemuda tampan yang tersesat. Dan tanpa sengaja menemukan taman ini. Pemuda ini kehilangan arah. Di tengah-tengah kebingungannya, dia mendengar suara yang berisik. Banyak suara-suara yang menurutnya begitu asing. Suara yang lucu, menggoda, hingga membuatnya penasaran ingin menemukan asal suara itu. Dan tanpa sengaja pemuda itu memasuki Taman Bunga di Balik Awan.

Seketika para peri terkejut melihat kedatangan pemuda itu. Mereka saling memandang dan curiga satu sama lain, mengira ada yang memberitahukan taman itu.

“ amy, apa kamu pernah memberitahukan tempat ini ke pemuda itu? “

“ tidak, Celina! Kita kan sudah berjanji seumur hidup kita, bahwa tempat ini hanya untuk para peri. Dan tidak untuk manusia. Aku tidak mungkin berkhianat.” Bantah Amy.

Amy, Celina, Sheila, Nene, dan peri yang lain memandangi pemuda itu dengan heran. Mencari jawaban di tengah keheningan yang mendadak tercipta saat itu juga. “ siapa pemuda tampan ini? Kenapa dia bisa sampai ke tempat ini? Apakah dia tersesat? Aku tidak yakin kalau dia bisa keluar dari tempat ini “ Celina bergumam dalam hati.

“ hey kau yang ada disana! “ Teriak Celina. “ sedang apa kau disini? Apa kepentinganmu disini? Tempat ini tidak untuk umum “

“ apa? Aku tidak mendengar apa yang katakan! Dan mengapa ukuran tubuhmu sangat kecil? “ Tanya pemuda itu.

“ Oh tidak mungkin! Kau tidak tau kalau kita ini peri? “ kata Nene dengan suaranya yang cempreng dan seperti di cekik.

“ apa katamu? Tolonglah! Jika kalian ingin berbicara jangan berbisik-bisik seperti itu, seolah-olah hanya kalian dan tidak ada aku disini” celoteh si pemuda.

Celina terbang kea rah pundak si pemuda. Dan terlihat sangat mempesona karena ada percikan berupa kembang api tapi lembut.

“WOW..!” si pemuda tertegun melihat Celina terbang mendekatinya.

“ hey, pemuda tampan tapi tidak mempunyai sopan santun! Sedang apa kau disini? Siapa yang memberi tahu tempat ini kepadamu? Ayo katakan!” sambil berteriak di telinga sang pemuda.

“ aku tidak tahu tempat ini. Aku tersesat, aku kehilangan arah. Aku terpisah dengan rombonganku dalam perjalanan kembali ke istanaku. Aku hanya terus berjalan menyusuri bukit ini dan aku mendengar suara yang tidak biasanya. Hingga sampailah aku di tempat ini. Dan akhirnya aku bertemu dengan kalian. Sekelompok wanita bertubuh mungil” jelas si pemuda

“ enak saja kau menybut kami bertubuh mungil. Kami ini peri. Apa kau pernah mendengar peri? Itulah kami! Yang mempunyai keindahan tersendiri di bandingkan dengan manusia sepertimu. Bahkan tidak mempunyai sopan santun.” Balas Celina

“hey kau! Enak saja kau menyebut ku tak punya sopan santun! Aku ini anak raja di negeri  Glimmert, di seberang bukit ini.”

“aku tak peduli kau anak raja atau bukan. Yang jelas kau adalah manusia yang tidak punya sopan santun, yang dengan sembarangan memasuki wilayah kami!”

Celina dan teman-temannya segera pergi meninggalkan pemuda itu sendirian. Bahkan Celina dan teman-temannya tidak berniat membantu pemuda itu untuk menemukan jalan keluar.

Sepanjang hari pemuda itu berjalan menyusuri taman bunga itu untuk mencari jalan keluar agar bisa pulang ke istananya. Hingga malam pun tiba, tak ada jalan yang bisa dia dapati. Dengan tubuh yang kelelahan, pemuda itu duduk beristirahat di tepi danau yang bening sambil meminum air danau, sekedar menghilangkan dahaganya. Yang membuat pemuda itu aneh adalah, tidak ada perasaan takut sedikitpun ketika dia seorag diri berada di tempat yang boleh di bilang asing bagi dirinya. Sedikitpun tidak ada rasa cemas.

Disaat pemuda itu sedang larut dengan ketenangan dikala itu, dia terpanah melihat Celina dan teman-temannya sedang bermain-main di bawah sinar rembulan. Dengan canda tawa mereka yang khas, suara mereka yang lembut, kepakan sayap pelan, sambil menyisakan percikan bintang-bntang kecil,membuat pemuda itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Pantulan sinar bulan di danau Fairy, bunga-bunga di tepi danau itu seperti sedang bercermin melihat betapa indahnya tubuh mereka yang berwarna-warni, seolah menjadi saksi hidup dan bisu. Dan menjelaskan tanpa kalimat keindahan Taman Bunga di Balik Awan.

Pemuda itu  terus memperhatikan Celina dan teman-temannya bermain, dan tanpa sadar dia tertidur di pinggir danau.

“ pemuda ini tampan sekali. Aku tidak yakin kalau dia bisa keluar dari tempat ini. Apakah kejadian Sheila akan terulang lagi?” Gumam Celina dalam hati sambil memperhatikan pemuda itu yang sedang terlelap tidur.

***

                Celina kembali teringat kejadian Sheila 600 tahun yang lalu. Kisahnya hampir mirip dengan pemuda itu. Dikala itu Sheila tersesat, dia melarikan diri dari ayah angkatnya yang sangat suka memukulinya. Dan tanpa sengaja Sheila masuk dan terjebak di Taman itu. Celina mendapati Sheila sedang duduk menangis di tpi danau dan bersandar di batu. Celina mengajaknya ngobrol, Sheila menceritakan apa yang terjadi padanya.

Dengan lembut Celina menjelaskan apabila seorang manusia sudah memasuki Taman itu tanpa sengaja , dia tidak akan bisa keluar lagi.  “ jika aku sudah tidak bisa keluar dari sini, apakah aku akan seperti mu, Celina? Apakah aku akan menjadi peri? Apakah aku tidak akan merasakan saktinya cambukan ayahku?” Tanya Sheila dengan panjang.

“Iya,Sheila. Kamu akan berubah menjadi peri dan tidak akan merasakan sakit selamanya.”

Dengan proses dan ritual yang panjang, Sheila pun menjadi peri. Dan apa yang dikatakan oleh Celina benar adanya. Sheila hidup bahagia selama 600 tahun, tanpa menjadi tua, tanpa perasaan sakit sedikitpun. Dan jika dia mengingat ayahnya, dia merindukan ayahnya, dia hanya bisa tersenyum.

***

“ hey kau gadis kecil apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau memperhatikan aku? Adakah yang aneh dengan aku?” Pemuda itu tiba-tiba bangun dari tidurnya.

“oh.. eh.. mmm maafkan aku. Aku tidak bermaksud berbuat begini. Maafkan aku.” Kata Celina yang gugup dan bersiap-siap untuk pergi.

“ tunggu! Tidakkah kau ingin menemaniku disini dan bertanya apa yang terjadi padaku?”

Celina mengurungkan niatnya untuk pergi. Dan kembali terbang duduk di pundak si pemuda. Bersiap-siap mendengarkan cerita si pemuda.

“siapa namamu? Dan asalmu dari mana?” Tanya Celina memulai pembicaraan.

“ Namaku Pangeran Pixie. Aku berasal dari negeri Glimmert, kerajaan sederhana yang terletak dibalik bukit ini. Aku sedang bertualang bersama prajurit-prajuritku. Aku sangat penasaran ketika melihat awan di atas bukit warnanya sangat indah. Warnanya tidak hanya biru. Tapi berwarna-warni. Aku meminta prajuritku untuk mengantarkan aku tapi mereka mengatakan bahwa tidak ada apa-apa dibukit itu, bahkan bukit itu tidak berwarna. Berarti hanya aku yang melihat.” Tandas pemuda itu, dan Celina pun duduk diam di pundak Pixie sambil medengar ceritanya.

“ ketika aku berjalan, aku hanya memandangi awan yang berwarna itu, dan tanpa sadar aku sudah tidak lagi bersama rombongan prajuritku. Dan sampailah aku kesini. Tapi aku heran dengan tempat ini. Aku sama sekali tidak merasa takut, cemas, bahkan merasa kedinginan. Aku tidak mengerti dengan tempat ini.” Kata pangeran Pixie.

“Pixie. Maaf, maksudku pangeran Pixie. Hmm tapi tidak, aku akan memanggilmu Pixie. Kau sekarang sedang berada di Taman Bunga di Balik Awan. Tempat ini tidak pernah di jamah oleh manusia.  Tempat ini adalah tempat para peri, tempat mencari ketenangan, kebahagiaan, dan tempat dimana kau tidak akan pernah merasakan sakit. Aku bunging harus menjelaskan seperti apa kepadamu. Rasakanlah sendiri.” Jelas Celina.

Sejenak mereka saling terdiam. Tidak tahu ingin melanjutkan percakapan dengan topic apa. Yang ada di dalam benak Celina hanyalah rasa khawatir dan bingung. Celina takut jika Pixie tidak bisa keluar dari Taman Bunga, dan itu artinya kejadian Sheila akan terulang lagi.

“ aku pergi dulu, ada yang harus aku kerjakan sekarang.” Pamit Celina tanpa menunggu jawaban Pixie.

***

                Hari demi hari berlalu. Waktu berjalan begitu cepat. Dan semakin hari Pixie makin bisa menyesuaikan diri dengan peri-peri kecil di Taman Bunga itu. Mereka makin akrab. Terutama Celina dan Pixie. Mereka makin sering bercanda. Teman-teman Celina pun ikut senang melihat nya.

Celina mulai merasakan kejanggalan dihatinya. Sesuatu yang berbeda dan tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata, bahkan ekspresi wajah tidak mampu melukiskan perasaan Celina saat itu terhadap Pixie. Pixiepun merasakan hal yang sama. Tapi dikala Celina sedang sendiri, dia merasa ragu akan perasaannya. Apakah rasa yang ada di dalah hati nya itu bisa bertahan lama? Pixie adalah seorang manusia. Memang hatinya baik. Tapi bukan lah suatu hal yang dapat menjamin mereka bisa bersama. Dan dari situlah, Celina mengerti arti CINTA. Tapi arti cinta tidak dia pahami sendiri. Sheila membantu Celina untuk mencerna perasaan itu.

Singkat cerita, Celina pun menceritakan kepada Pixie. Jika sudah masuk ke Taman Bunga, dia tidak akan bisa keluar lagi. Dan jalan satu-satunya agar supaya tetap bertahan hidup, Pixie harus menjadi peri. Pixie, tercengang dan ragu. Tidak bisa berpikir apa-apa. Bimbang harus menjalani kehidupan yang mana. Apakah akan tetap menjadi manusia yang berumur pendek atau selamanya hidup tapi menjadi peri. Pilihan yang sangat sulit untuk di tentukan.

“ aku tahu kamu berada dalam pilihan yang sulit. Aku tidak akan memaksakan kehendakku untuk menentukan pilihanmu. Pilihanmu adalah hidupmu. Silahkan kamu berpikir, Pixie.”

“ Celina….”

Di suatu malam Celina mendengar Pixie sedang bercakap-cakap sendiri dengan bayangannya di tepi danau Fairy.celina terus mengamati Pixie.

“ hari Pixie, apakah kamu tau? Aku sangat menyukai tempat ini. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan hati ku terhadap Celina. Tapi aku juga bimbang dengan rakyatku di Glimmert. Biasakah kamu memberikan aku jawaban yang pasti Pixie?”  Pixie mendesah pertanda putus asa dan tidak sanggup untuk menentukan pilihan mana yang harus di ambil.

“ aku merindukan ayahku, ibuku, Rosseta adikku. Apa yang sedang kalian lakukan sekarang? Apakah kalian mencari aku? Aku sangat merindukan kalian.: suara Pixie mulai terdengar serak, dan tanpa sadar Pixie menitikkan air mata.

Celina yang medengar hal itu merasa sedih. Dia berniat ingin mengembalikan Pixie ke kerajaan. Tapi kekuatan sihir yang ia punya tidak sanggup untuk mmbawa Pixie pulang. Jalan satu-satunya adalah dia mengorbankan nyawanya yang abadi. Mati. Dan tidak lagi menjadi peri.

Di depan teman-temannya  Celina terlihat sepertti biasanya. Bahkan di depan Pixie, Celina terlihat sangat bahagia. Terlihat sama seperti pertama kali Pixie melihat Celina yang begitu ceria. Tapi di balik semuanya itu. Baru sekarang Celina merasakan sesuatu yang di sebut BEBAN. Celina mengakuinya, hal itu sangatlah tidak nyaman dihatinya. “Apakah ini yang di rasakan oleh semua manusia diluar sana?” Celina bergumam dalam hati.

Diam-diam dan tanpa sepengatahuan teman-temannya, Celina melakukan persiapan yang di sebut dengan Meninggalkan Keabadian. Bunga-bunga di taman itu sama sekali tidak pernah di petik.  Dan untuk meninggalkan keabadian itu, masing-masing bunga dipotong dengan menggunakan pisau emas yang tersimpan di Pohon Ara yang terletak di ujung taman.

Semua persiapan di lakukan Celina dan semuanya berjalan dengan baik, tanpa ada satu pun peri yang mengetahui hal tersebut. Sheila, Nene, bahkan Amy tidak mengetahuinya. Semua jenis bunga itu dicampurkan oleh Celina ke sebuah nampan yang sudah berisi air abadi. Sambil menangis Celina memandangi nampan itu. Bayangannya hanyalah Pixie, dan 3 sahabatnya itu.

Celina terbang mencari keberadaan Pixie. Celina pasti tau kalau Pixie pasti berada di taman. Cukup lama Celina memandangi wajah Pixie sambil menangis. Merasakan sakit. Rasa yang selama 900 tahun tidak pernah dia rasakan. Dan dia rela melakukannya.

Niat Celina di ketahui olej Amy yang malam itu tidak bisa tidur, dan sengaja berjalan-jalan di tepi danau. Amy melihat Celina membawa botol kaca yang berisi cairan berwarna biru.

“ Celina, apa yang sedang kamu perbuat?” tiba-tiba Amy menghampiri Celina yang kala itu sedang menangis.

Celina terkejut “ Amy, apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?

“harusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini dengan botol ini?”

“maafkan aku, Amy. Aku harus melakukan ini. Aku tidak ingin orang lain menderita. Aku ingin mengorbankan keabadianku untuk Pixie, agar dia bisa pulang bersama keluarganya. Aku sedih medengar dia menangis beberapa hari yang lalu. Dia sangat merindukan keluarganya. Tapi di sisi lain, dia sangat menyayangi aku. Aku tidak ingin menghalangi cinta di antara keluarganya yang rukun. Sudah cukup bagiku 900 tahun merasakan bahagia tanpa sakit sedikitpun.” Tangis Celina makin menjadi ketika Amy memeluknya kencang.

Amy memanggil Sheila dan Nene untuk menyaksikan hal yang menurut mereka adalah bodoh. Mati demi seorang pangeran yang sama skali tidak di kenalnya begitu dekat.

Tangis pecah di antara mereka berempat. Pixie sama sekali tidak bangun dari tidurnya. Sebelum Celina melakukan hal itu, dia menulis surat yangdi selipkan ke saku Pixie dengan menggunakan tinta emas.

Surat tinta emas itu di selipkan ke saku Pixie. Celina mematahkan sayapnya. Meletakannya di dada Pixie, kemudian meminum ramuan yang dia buat dari bunga-bunga di taman itu.  Tubuh Celina yang bercahaya perlahan-lahan redup. Mulai tidak bernafas, dan lemah. Tubuh Pixie perlahan-lahan lenyap. Seiring dengan lenyapnya Pixie, Celina pun mati. Amy, Sheila, dan Nene tak kuasa menahan tangis. Tubuh Celina yang tanpa sayap di simpan ked alam kotak emas dan di simpan bersama pisau emas di Pohon Ara di ujung taman. Tidak ada peri-pri lain yang mengetahui hal itu.

***

                Pixie bangun dengan keadaan bingung. Dia heran kenapa dengan seketika dia bisa berada di kamarnya. Padahal semalam dia tidur disamping batu di tepi danau. Pixie mencoba mengingat kejadia-kejadia sebelumnya. Tak sengaja dia meraba-raba sakunya. Pixie menemukan surat. Surat dengan tinta emas dan ada nama Celina disana.

aku juga merasakan hal yangsama denganmu. Tapi aku lebih memlih mati dan menyaksikan kebahagiaanmu dari surga. Terima kasih untuk cintamu. Aku ingin kau bahagia dengan orang-orang yang juga menyayangimu. Nyawaku adalah cintaku. Dan aku persembahkan untukm. Untuk kehidupanmu. Ingatlah taman ini dan ingatlah percikan cahaya bintang yang keluar dari diriku.”

Isi surat yang singkat dan menjelaskan kenyataan. Keabadian di ganti dengan kematian demi kebahagiaan.

 

                                                                                                                                                                Monica, 5 nov’2011

MONICA PRISCA [monica.prisca @gmail.com]

Comments are closed.