Sandal Baru Nayla

            “Naylaa…. sini. Ayo kita pulang” ajak ibu.
“Kamu lihat apa sih ?” tanya ibu.
“Itu Bu, aku pengen sandal itu” tunjuk Nayla.
            “Besok ya kalau ibu punya rezeki, sekarang ini makan aja susah, Nay. Jadi beli sandalnya ditunda dulu” kata ibu.
            “Tapi Bu, sandal Nayla udah bolong. Kalau di aspal kaki Nayla lecet dan panas Bu” pinta Nayla.
            “Mau gimana lagi Nay besok aja ya kalau ibu udah jadi tukang cuci tetap. Kalau sekarang gajinya nggak tetap. Bisa aja hari ini kita dapat uang banyak, tapi besok kita nggak dapat uang. Kita makan apa, sabr dulu ya” jawab ibu.
            “Ya sudah Bu” jawab Nayla.
            Tania memandang Nayla dengan perasaan sedih, di rumahnya banyak sekali sepatu-sandal yang tidak terawat, sementara Nayla kekurangan sandal. Bukan karena malas menggunakannya. Namun karena mamanya yang membelikan banyak sandal dan sepatu. Selama ini Tania memang anak yang di manja. Tapi Tania tidak ingin di manja, ia ingin jadi anak yang mandiri. Saking banyaknya Tania jadi binggung ingin memakai yang mana. Sebenarnya sepatu Tania masih bagus namun mama selalu membelikan. Ya sudah deh, alhasil sepatu-sandal itu tidak muat lagi di kaki Tania dan harus disimpan di gudang. Pernah suatu ketika Tania meminta agar mama berhenti membelikan sepatu dan sandal tapi mama selalu menolak. Mama pikir sandal dan sepatu itu adalah oleh-oleh terindah.
“Aku harus membuntutinya” tekad Tania.
Tania segera membuntuti Nayla dari belakang. Tania Khairunnisa, ia adalah anak kelas 4 SD, anak dari seorang dokter gigi dan pengusaha. Semakin lama Tania melangkah semakin kumuh daerahnya. Tania sampai harus menutup hidung.
“Akhirnya kita sampai rumah ya Bu” sorak Nayla senang.
“Iya. Kamu capek ya ?” tanya ibu.
“Iya, Nayla juga laper Bu” jawab Nayla sambil mengelus perutnya.
“Ya sudah Ibu belikan beras dulu ya” pamit ibu sambil berjalan menuju warung terdekat.
“Hati-hati Bu” pesan Nayla.
“Oke sayang” jawab ibu sambil tersenyum.
Tania memandang dari balik pohon, rumah Nayla sangat sangat sederhana. Dindingnya sudah keropos, lantainya pun tidak di keramik. Tania semakin iba dibuatnya.
“Nggak boleh.. kemarin kamu udah utang gula sama teh. Katanya mau di bayar besok tapi mana ?! sekarang malah ngutang lagi. Udah cari warung yang lain aja” bentak penjual kelontong.
“Maaf Bu, tapi saya belum punya uang. Anak saya kelaperan. insyaAllah besok kalau saya punya rezeki akan saya lunasi. Saya mohon Bu” pinta ibu.
“Nggak bisa Bu. Uang untuk modal saya bisa habis nanti” hardik penjual kelontong.
Melihat kejadian itu Tania bergegas ke warung. Tak lupa sebelumnya Tania mengecek uang sakunya. Untung uang saku itu belum ia gunakan sama sekali sehingga masih utuh. Setiap hari Tania diberi uang saku 10.000 namun uang itu tidak habis sehari, Tania membutuhkan waktu kurang lebih 2 hari itupun kalau ia menabung. Kalau tidak menabung uang itu habis dalam waktu 5 hari. Di tasnya Tania masih menyimpan 1 lembar uang 100.000, uang pemberian nenek sewaktu Tania ulang tahun.
“Bu, saya mau membeli minyak goreng 2 bungkus, beras 3 kg, teh 2 bungkus, gula pasir 2 kg, sama nugget itu 2 bungkus” ujar Tania.
“Oh, bentar ya Dik ibu bungkuskan dulu” jawab penjual kelontong.
“Iya Bu” ucap Tania.
“Ini Dik, semuanya 35.000” ujar penjual kelontong.
“Ini uangnya. Terima kasih Bu” kata Tania.
“Sama-sama Dik” jawab penjual kelontong.
Setelah berbelanja kebutuhan pokok. Tania segera menuju rumah Nayla.
“Assalamualaikum. Permisi” ucap Tania sambil mengetuk pintu.
“Waalaikum salam” jawab Nayla.
“Mau mencari siapa Mbak ?” tanya Nayla.
“Aku mau mencari kamu Dik” jawab Tania.
“Hah, mencari saya. Emang Mbak kenal sama saya ?” tanya Nayla.
“Kenal dong, adik namanya Nayla kan ?” tanya Tania memastikan.
“Kok tahu Mbak, saya aja nggak tahu nama Mbak” jawab Nayla.
“Ya sudah kita kenalan dulu. Kenalin nama saya Tania, saya kesini ingin membantu kamu. Tadi saya melihat kamu di jalan. Kamu kepengin sandal ya ?” tanya Tania.
“Iya Mbak, sandal saya sudah bolong” jelas Nayla.
“Ooh.. orang tua-mu kemana ?” tanya Tania.
“Bapak saya merantau ke kalimantan sedangkan ibu saya sedang keluar membeli beras” terang Nayla.
“Kamu laper ya ?” tanya Tania.
“Iya Mbak” jawab Nayla.
“Gimana kalau aku gorengin nugget ?” tanya Tania.
Nugget apa itu Mbak ?” tanya Nayla.
“Udah nanti kamu juga lihat. Mau nggak, kita bagi tugas kamu masak nasi aku yang nggoreng. Ok !!” ujar Tania.
“Ya sudah deh Mbak, tapi saya nggak punya bahan-bahannya lho” kata Nayla.
“Tenang aku sudah beli barang-barangnya” ujar Tania.
Mereka berdua asyik memasak di dapur, aroma menggodapun sudah mulai masuk ke hidung Tania dan Nayla. Setelah mereka selesai. Tania pamit untuk pulang karena orang tuanya telah mencari.
“Huuff.. capek ya Nay” ujar Tania.
Kring… kring..
“Halo, apa Ma, iya.. ya nanti Tania pulang. Belum Ma, pak Nino suruh jemput di jalan deket Surya Cell ya.. oke”
“Siapa Mbak ?” tanya Nayla.
“Ini dari Mama aku. Oh ya Nay aku pamit pulang dulu ya insyaAllah besok aku kesini lagi” pamit Tania.
“Iya Makasih Mbak” jawab Nayla.
Tania berjalan menuju jalan dekat Surya Cell, ternyata pak Nino sudah menunggunya.
Keesokan harinya. Seperti janji Tania, sepulang les. Tania minta di antar ke Surya Cell. Kali ini ia membawa kerdus besar berisi sepatu-sandalnya yang sudah kekecilan. Setelah sampai di depan Surya Cell, Tania berpesan kepada pak Nino untuk menjemputnya jam 12. Tania pun berjalan hingga sampai rumah Nayla.
“Assalamu’alaikum, Nayla. Ini aku Tania” teriak Tania.
“Waalaikum salam, Mbak Tania ya.. ayo sini masuk. Duduk dulu ya ibu buatkan teh hangat” ujar ibu.
“Nggak usah repot-repot Bu” tolak Tania.
“Enggak Mbak nggak repot kok” jawab ibu.
Setelah menunggu. Ibu pun datang sambil membawa nampan berisi 2 gelas teh.
“Makasih Bu” ucap Tania.
“Iya Ibu juga makasih lho, kemarin udah di kasih barang-barang. Oh ya ibu mbak Tania kerjanya apa ?” tanya ibu.
“Mama kerjanya jadi pengusaha sepatu. Kalau papa dokter gigi” jelas Tania.
“Oh, mama mbak Tania namanya. Ibu Vivania Natasha ya..” ucap ibu.
“Iya, kok ibu bisa tau” tanya Tania.
“Ya iya dulu ibu kan jadi pegawai disana. Tapi karena menggandung Nayla ibu cuti, eh nggak taunya ibu malah sakit jadi berhenti aja sekalian. Gimana kabar ibu sekarang ?” tanya ibu.
“Alhamdulillah baik.. kebetulan mama sedang mencari pegawai baru. Kalau ibu mau ibu bisa ke rumah” tawar Tania.
“Ya.. insyaAllah besok ibu kesana” ujar ibu.
“Bu, kok Nayla lama sekali ya.. saya tadi minta di jemput jam 12. Baru ngobrol sebentar aja udah jam setengah 12. Saya pamit aja ya Bu, daripada nanti kasihan pak Nino nunggu kelamaan. Saya titip ini untuk Nayla. Semoga bermanfaat ya Bu” ucap Tania.
“Oh, Makasih. Diminum dulu tehnya” pinta ibu.
“Oh, iya sampai lupa” ucap Tania.
Setelah menghabiskan teh Tania buru-buru pamit. Dan pulang, keesokan harinya ibu dan Nayla datang ke rumah Tania untuk melamar pekerjaan. Mama Tania yang sudah mengetahui sifat ibu langsung menerima dan menjadi pegawai tetap. Alhamdulillah sekarang Nayla sudah bisa sekolah lagi… aiih senangnya bisa membantu.
Dikirim Oleh :
Shofie Fisabilla
shofiefisabilla @yahoo .co.id