Legenda Lutung Kasarung

legenda-lutung-kasarungDahulu kala di tatar Pasundan nan permai, hiduplah seorang putri cantik berbudi pekerti luhur. Putri tersebut bernama Purbasari. Sayangnya, takdir sang putri tidak seindah namanya. Purbasari dibuang ke tengah hutan oleh ayahanda tercinta, sang raja dari Kerajaan Pasir Batang. Tega sekali raja itu, ya?

Sang raja sebenarnya tidak tega membuang putri kesayangannya ke dalam hutan. Lalu bagaimana ceritanya sehingga Purbasari ditelantarkan? Jadi, raja bernama Prabu Tapa Agung bertambah tua dan sakit-sakitan. Dia memiliki 7 orang putri yang telah menikah, kecuali Purbararang dan Purbasari.

Purbararang adalah putri sulung. Dia bertunangan dengan Raden Indrajaya, pemuda tampan anak bangsawan. Tetapi Purbararang memiliki sifat yang sombong dan egois. Begitu pula dengan tunangannya yang terkenal pesolek dan menyenangi harta dunia. Hal ini membuat raja pusing tujuh keliling bila harus menyerahkan tahta pada putri sulungnya itu.

Kecemasan sang raja membuat penghuni Kayangan memberi wangsit. Di dalam mimpinya, Prabu Tapa Agung diminta menjadikan Purbasari sebagai ratu yang mengantikannya. Menurut Sunan Ambu, penguasa kayangan, keputusan itu dikarenakan Purbasari memiliki sifat paling baik di antara saudaranya. Jika kelak dia berkuasa, maka rakyatnya dapat hidup tenteram dan bahagia.

Prabu Tapa Agung segera mengumumkan wangsit dari kayangan pada seluruh penghuni kerajaan. Purbasari, putri bungsu raja, akan dinobatkan sebagai ratu penguasa Pasir Batang. Kabar ini membuat Purbararang marah. Dia tidak terima keputusan ayahnya. Apalagi sebagai putri sulung, Purbararang merasa berhak mengklaim tahta tersebut.

Tipu daya licik direncanakan. Purbararang meminta ramuan sihir dari dukun sakti jahat yaitu Ni Ronde. Purbararang memberikan ramuan berwarna hitam penuh kebencian pada Purbasari. Kulit Purbasari yang dulunya mulus dipenuhi bintik-bintik hitam besar berbau busuk. Wajahnya yang cantik jadi terlihat menyeramkan akibat penyakit dari boreh itu.

Purbararang menghasut raja agar mengusir Purbasari dari istana. “Dia sudah tidak pantas lagi menjadi ratu, Ayahanda. Barangkali penyakitnya itu karena terkena kutukan dewa!” ujar Purbararang merasa jemawa. Prabu Tapa Agung kecewa dan meminta patih kepercayaannya, Uwak Batara Lengser untuk mendampingi Purbasari ke tengah hutan.

Di dalam hutan, patih tua yang bijak ini membuat rumah sederhana agar Purbasari dapat berteduh. Beberapa hari kemudian, seekor lutung tersesat masuk ke dalam rumah. Lutung itu tampak terawat dan sangat jinak. Purbasari menyebutnya Lutung Kasarung. Lutung itu selalu mendampingi Purbasari ke manapun dia pergi.

Lutung Kasarung sebenarnya adalah jelmaan Guruminda, anak penguasa kayangan. Dia pun bersemedi meminta pertolongan dari langit. Maka muncullah danau ajaib di hutan. Lutung Kasarung menyuruh Purbasari mandi di danau tersebut. Keajaiban menghampiri putri malang itu. Kulitnya menjadi kuning langsat dan mulus kembali. Purbasari bertambah jelita.

Kabar tersiar ke kalangan istana. Purbararang yang iri hati menantang Purbasari melakukan adu panjang rambut. Ketika diadu, rambut Purbasari lebih indah, lebih hitam dan lebih lebat dibanding rambut sang kakak. Dicengkeram amarah, Purbararang meminta hadirin memilih siapa yang pasangannya paling rupawan di antara dirinya dan Purbasari.

Purbararang mengejek Lutung Kasarung sebagai pasangan Purbasari. Dengan hati pasrah, Purbasari menerima tantangan itu. Namun tiba-tiba Lutung Kasarung berubah menjadi sosok pemuda tampan nan gagah yang memesona semua orang. Raden Indrajaya tersudut dan mengaku kalah, begitu pula dengan Purbararang.

Akhirnya Purbasari diangkat menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang. Dia memaafkan perbuatan licik sang kakak dengan tulus hati. Guruminda dan Purbasari menikah dan hidup bahagia. Kerajaan pun semakin aman, tenteram dan sejahtera. Purbasari tidak lupa bersyukur atas apa yang diraihnya. Kesabarannya selama ini ternyata berbuah kebaikan.