Hadiah Untuk Uswa

Uswa adalah teman terdekatku. Dia sangat cantik. Dia juga pintar. Sejak kecil aku berteman dengannya. Dia juga baik hati. Tapi, kadang aku memusuhinya , padahal hanya masalah sepele.

Dulu, waktu musim hujan, aku bermain air dan melukai adiknya. Itu membuatku menyesal dan kembali memusuhinya. Ooh, apa yang telah aku lakukan? Aku menyesal telah memusuhinya. Sampai pada  hari Idul Adha, aku membuatkannya gelang. Gelang itu sama seperti milikku. Aku malu memberikan gelang itu padanya. Dan akhirnya aku bisa. Itu sebagai permintaan maafku padanya.

Hari berganti hari. Aku kadang bermain ke rumahnya. Rumahnya kecil, tapi bersih. Bapaknya adalahh seorang guru, dan ibunya seorang penjahit. Seragam-seragam sekolahku itu dijahitkan kepada ibunya yang aku panggil Budhe Yayah.

Pada suatu malam, Uswa, ibunya, dan adiknya mengalami tabrakan sepeda motor. Kaki Uswa patah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Betapa kasihan dia. Untunglah yang menabrak itu bertanggung jawab. Aku ikut ibuku untuk menjenguk Uswa yang masih di UGD. Dia memakai kaos pink berlorek-lorek. Kerudung cokelatnya kotor terkena noda tanah.

Saat Uswa dipindah ke kamar pasien, aku masih bersama ibuku di ruang tunggu. “Bu, ayo!” ajakku. Semua yang menjenguk Uswa naik ke atas menggunakan lift. Pusing rasanya menggunakan lift.

Hari berganti hari. Sekarang hari Jum’at, tepatnya saat tahun baru Hijriah. Malam itu, ibu kembali ke rumah sakit. Aku ikut lagi, hehehe. Habis, aku kangen sama teman yang selama ini selalu menemaniku. Dia berbaring lemas di kasur. Ooh, kasihan. Aku semakin menyesal telah memusuhinya waktu dulu.

Hari Sabtu. Hari yang paling menegangkan bagiku. Karena pada jam pertama adalah berkumpul di halaman untuk mengetahui peringkat 1 – 3. Saatnya untuk kelas 4. Untuk kelas 4 D, aku mendapat peringkat ke-3. Ya, nggak apa-apa, lah. Aku mendapat hadiah dari sekolah. Seperti biasa, hadiahnya hanya beberapa buku, bolpoin, dan pensil.

Acara berkumpul di halaman selesai. Saatnya aku kembali ke kelas. Rencananya, aku  ingin memberikan hadiah ini kepada Uswa. Hatiku berkata, “Aku berikan saja!” Hatiku berkata lagi, “Jangan! Itu, kan, hasil dari belajarmu! Masa harus diberikan sama orang lain!” Dan aku memutuskan untuk … memberika itu kepada temanku yang sedang patah tulang itu.

Saatnya pulang. Aku segera menuju ke belakang, tempat aku memarkirkan sepedaku. Karena uangku tinggal Rp 1.000,00, aku gunakan untuk jajan di toko yang lumayan jauh. Aku membeli makanan yang harganya Rp 900,00. Makanan itu juga untuk Uswa. Hatiku terus berkata untuk memberikan atau tidak makanan dan hadiah itu kepada Uswa.

Malam harinya, keputusanku sudah bulat; memberikan hadiah dan mekanan ini kepada Uswa. Aku segera mengajak ibuku untuk mengantarku ke rumah sakit lagi. Mungkinkah dia senang atas pemberianku ini? Tidak tahu aku.

Sampai di rumah sakit, aku menuju lantai 4. Aku menuju kamar Uswa. Aku berikan itu kepada ibunya. Aku berkata, “Ini untuk Uswa.” Hudan pun juga memberi Uswa sebuah majalah yang ada bonusnya. Aku harap, Uswa mau menerima hadiah dariku.

Itulah cerita tentang seorang anak yang kurang mampu mengalami kecelakaan. Aku berjanji, “Aku tidak akan memusuhi Uswa lagi!” Karena Uswa-lah teman karibku sejak kecil.

 

Azka Syamila [azkasyamila @yahoo.co.id]

Comments are closed.