Gaun Putihku

Di suatu kota yang ramai sekali dengan penduduknya,hiduplah gadis bernama Dania. Dania adalah anak orang kaya tetapi,Dania tidak sombong. Dania duduk di kelas 5 SD. Dania anak yang penurut kepada orang tuanya dan rajin beribadah. Hoby Dania adalah membaca. Dania termasuk anak yang pandai,setiap ada lomba pasti Dania hadir untuk mengikuti lomba itu.

Pagi berganti malam,saatnya Dania melakukan shalat magrib setelah itu,Dania belajar di temani oleh Bundanya. Satu jam ia gunakan untuk belajar,Dania segera mengambil air wudlu untuk shalat isya.Lalu ia segera beranjak tidur di kasurnya yang empuk dan nyaman.

“Dania ayo bangun shalat subuh dulu!” perintah Bunda.

“Baik Bunda” balas ku.

Setelah shalat,Dania segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sesudah mandi ia segera berganti baju. Karena hari ini hari Senin, maka Dania mengenakan baju Merah Putih. Selanjutnya Dania turun untuk sarapan. Setelah sarapan,Dania menuju ke Pak Ahmad untuk diantarkan ke sekolah.

“Hai Dania” kata Mia sambil menepuk pundak ku.

“Hai juga Mia,apakah kamu sudah belajar semalam?” tanyaku

“Pasti dong,kalau kamu?” tanya Mia balik.

“Sudah,kita ke kelas yuk!” ajak ku.

Setelah berada di kelas Dania duduk di samping Mia.Hari ini pelajaran pertama adalah Matematika. Setelah Bu Liza memasuki kelas kami,Bu Liza sempat menjelaskan bahwa tanggal 25 november 2011 akan di adakan olimpiade Matematika.

“Siapa yang mau ikut olimpiade Matematika?” tanya Bu Liza

Kami mengangkat tangan setinggi-tingginya tetapi hanya 4 orang saja yang mengikuti yaitu Dania ,Mia,Rico dan Vanesa. Vanesa adalah anak orang kaya tetapi, sikap Vanesa tidak sama seperti Dania yang baik. Sikap Vanesa sangat sombong.

“Jika kalian mau melihat informasi lengkap,waktu istirahat kalian lihat di mading” kata bu Liza.

“Tet……tet…”tanda bel istirahat berbunyi. Anak-anak segera menjajankan uangnya.

“Hei lihat,hadiahnya besar sekali” kata Mia ketika membaca pengumuman Olimpiade matematika.

“Iya,hadiahnya sebesar 5 juta rupiah” tambah ku

“Jika aku mendapatkan hadiah itu,aku akan memberikan uang ini kepada anak yatim piatu” kata ku.

“Wah,kamu sangat baik tak seperti Vanesa” kata Mia.

“Hush….gak boleh gitu”larang ku.

“Iya-iya..Ke kantin yuk aku laper nih!”kata Mia mengalihkan pembicaraan.

Saat aku mau memasuki kantin hidung ku mengeluarkan darah. Sebelumnya aku belum pernah mimisan.

“Mia aku ke kamar mandi dulu ya” kata ku.

“Iya,jangaan lama-lama ya” kata Mia.

Aku langsung menuju ke kamar mandi. Aku segera mengusap darah yang keluar dari hidung ku.

“Ayah dan Bunda tidak boleh tahu karena nanti mereka akan panik memikikan aku” pikir ku.

“Hai Mi” sapa ku

“Kok lama?” tanya Mia.

“Iya,udah kita lanjut kan makannya!” usul ku.

“Tet…..,tet” bel berbunyi. Pelajaran terakhirpun telah usai.

Saat pulang hidungku mengeluarkan darah lagi. Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar dan mengusap darah dengan tisu.

“Dania cepat turun ayo makan!” kata Bunda ku.

“Iya ma” balasku keras.

Setelah berganti baju aku langsung turun untuk makan siang. Kali ini makan siangnya adalah kepiting bakar. Setelah makan aku mengambil air wudlu untuk shalat dzuhur. Setelah shalat aku tidur di ranjangku yang bersprei warna pink.

“Allahu akbar,allahu akbar…” terdengar suara adzan. Aku segera terbangun saat terbangun hal itu terulang lagi hidung ku mengeluarkan darah lagi apa yang terjadi sebenarnya padaku?

Aku segera mengambil air wudlu lalu shalat ashar. Setelah itu aku mengambil buku Matematika ku. Aku belajar tanpa siapapun kecuali diriku sendiri. Bunda dan Ayah pergi ke luar kota,aku dititpkan sama mbok Jum. Tetapi untunglah Bunda dan Ayahku pergi hanya sebentar paling lama 1 hari saja karena mereka sangat menyayangi ku dan tidak mau kehilangan ku.

“Tok…,tok…,tok..” suara ketukan pintu.Ternyata benar itu adalah kedua orang tuaku.

“Hai Dania, Bunda dan Ayah sagat merindukan mu.” kata Bunda sambil memeluk ku dengan erat.

“Aku juga sangat merindukan Bunda dan Ayah” kataku.

Aku segera mengambilkan air putih untuk orang tuaku.

“Terimakasih ya Dania.” kata Ayah.

“Sama-sama yah. Ayah,Bunda aku kan mau ikut lomba olimpiade Matematika nanti aku boleh tidak belajar sama Ayah dan Bunda.” mohon ku.

“Iya Dania, Bunda dan ayah akan belajar dengan Dania” kata Bunda.

“Horee!,ayah tidak membelikan ku oleh-oleh?” tanya ku.

“Tenang Bunda dan Ayah sudah membelikanmu sebuah baju yang anggun.”jelas Ayah.

“Apa oleh-olehnya?” tanya ku.

“Emmmm…..tapi oleh-olehnya setelah kamu menang olimpiade ya.” kata Ayah.

“Iya”kata ku.

Setelah aku menyambut kedatangan orang tuaku, aku segera mandi. Selesai mandi aku berhias karena aku akan pergi ke rumah Mia untuk belajar. Saat aku mulai menyisir rambutku,rambut ku tiba-tiba rontok dan rontoknya banyak sekali. Aku takut aku mempunyai penyakit kanker darah atau leukimia. Saat ini  aku sangat khawatir tentang keadaanku sekarang. Tapi aku takpedulikan. Selesai berdandan, aku segera mengambil sepedaku.

“Bun, aku berangkat kerumah Mia ya!” pamit ku.

“Kamu tidak diantar Pak Ahmad?” tanya Bunda.

“Tidak, aku mau berolahraga saja!” kata ku.

“Bun, aku berangkat dulu ya!” pamit ku sekali lagi.

“Iya, hati-hati saja!” pesan Bunda.

Aku segera menuju ke rumahnya Mia. Sesampai di rumah Mia, aku segera memencet bel rumah Mia. Lalu keluarlah gadis berkerudung merah nan cantik. Gadis itu ternyata Mia.

“Eh Dania, ayo masuk!” ajak Mia.

Sesampainya di kamar Mia. Aku mengeluarkan buku Matematikaku.

“Tok…tok…tok…” terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Mia.

“Eh, ada Dania di sini.” Kata Bunda Mia. Aku hanya tersenyum kepadanya.

“Mau minum apa Dania ?”  tanya Bunda Mia.

“Minum air putih saja tante.” kataku.

“O..,iya tante ambilkan duluya.” katanya.

Aku dan Mia  segera membuka buku Matematika. Setelah satu jam belajar, rasanya sangat capek sekali.

“Mia,Tante aku pulang dulu ya!” pamitku kepada mereka.

Aku segera berangkat pulang memang rumah ku dan rumah Mia agak jauh. Aku mengayuh sepeda sangat capek karena aku sangat takut dengan kagelapan. Sesampainya dirumah dadaku sangat sesak, sesak sekali bahkan hidungku mengeluarkan darah lagi.

“Kamu kenapa Dania” tanya Bunda.

Waktu itupun aku pingsan dengan seketika. Kulihat Bunda dan Ayah menangis dihadapanku. Namun kecemasan mereka berangsur surut setelah mengetahui keadaanku mulai membaik.

Hari ini hari yang aku tunggu-tunggu karena hari ini adalah hari mengikuti lomba olimpiade. Aku segera mandi lalu mengenakan baju muslim berwarna biru muda.

“Yah aku mau ketempat lomba dulu ya, kali ini aku tidak bersepeda tapi diantar sama pak Ahmad.” Kata ku.

“Jangan, kamu masih sakit Dania!” larang Ayah.

“Tapi aku ingin mengikuti lomba itu” mohon ku.

“Baik Ayah mengizinkan mu” kata ayah

“Horee!” seru ku.

Pak Ahmad segera mengantarkanku ketempat lomba. Sesampainya di tempat lomba aku langsung duduk di tempatku. Seseorang membagikan soal kepadaku dan para pengikut lomba yang lainnya. Kulihat para teman ku mengerjakan sangat cepat.

Selesai mengerjakaan dan lomba telah usai, aku langsung keluar dan kulihat mobil berwarna hitam. Pak Ahmad telah datang untuk menjemputku. Sesampainya di rumah,aku menaiki tangga untuk menuju kamarku kulepas kerudungku dan kulihat di dalam kerudungku sangat banyak  rontokan rambut saat itupun hidungku mengeluarkan darah dan dadaku sangat sesak. Aku berteriak sekencang mungkin,ayah dan Bunda segera berlari menghampiri aku.

Aku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah beberapa hari dirumah sakit Mia datang untuk menjengukku.

“Aku membawa berita bagus untukmu.” kata Mia.

“Apa? Aku ingin mengetahuinya?” tanya ku.

“Kamu memenangkan lomba Olimpiade Matematika.” katanya.

Aku sangat senang sekali tetapi dadaku terasa sangat sesak sekali dan saat itu pun aku taksadarkan diri. Dokter mencoba menolongku hingga membawaku ke ICU agar aku mendapatkan pertolongan yang lebih lengkap. Namun Allah berkehendak lain. Aku harus meninggalkan semuanya di dunia ini karena jatah usiaku sudah habis. Mia sahabatku pingsan mendengar kabar dari dokter. Ayah dan bunda menangis. Kado yang akan diberikan kepadaku terjatuh dari tangan ayah. Sebuah gaun putih nan cantik. Mungkin itu adalah kado terindah dari orang tuaku karena akan aku kenakan untuk terakhir kalinya dan menemaniku di alam lain.

Nama             : Nindia Ikhza Wardah H.

Sekolah         : SD Islam Roushon Fikr Jombang

Kelas              : V-Kreatif

Email              : nindia.wardah @yahoo.com

Imma Rahmawati Ulfa [imma.rahmawati @yahoo.com]

Comments are closed.