Adi dan Berang-berang

(seri dongeng kesiap-siagaan bencana)

BY Wildan

Adi seorang anak yang rajin dan baik hati, dia tinggal disebuah desa kecil di kaki gunung Louser di Aceh. Sepulang sekolah Adi selalu membantu ibunya mencari ranting-ranting pohon untuk kayu bakar di hutan. Adi memiliki sahabat seekor berang-berang yang tinggal di sungai kecil di tengah hutan, Adi senang memperhatikan berang-berang saat membangun bendungan untuk sarangnya di sungai kecil tersebut. Terkadang mereka berdua berlomba-lomba menangkap ikan di sungai tersebut.

Suatu hari berang-berang bercerita kepada Adi tentang orang asing yang sering datang ke atas gunung tersebut, ”Mereka membabat pohon-pohon diatas hutan, gunung disebelah sana sudah gundul, akibatnya air sungai untuk sarangku semangkin berkurang”, keluh berang-berang.

“Benar berang-berang, ibu di kampung juga mengeluh kalau musim kemarau susah sekali mencari air bersih karena sungai jadi kering, kalaupun ada airnya keruh sekali”, imbuh si Adi

“Kalau musim penghujan datang sedangkan hutan diatas gundul serta log kayu yang besar-besar berserakan di atas sana akan sangat berbahaya”, kata berang-berang dengan nada ketakutan

“Mengapa berbahaya?”, Tanya Adi keheranan

“Kalau turun hujan maka air hujan akan terhambat oleh log kayu yang besar-besar itu, maka terjadilah genangan seperti bendungan, nah apabila hujannya semakin deras dan lama maka log-log kayu itu tidak mampu menahan jumlah air yang besar, maka log kayu akan pecah dan terjadilah banjir bandang yang akan menghantam desa-desa disepanjang aliran sungai ini”, jelas berang-berang.

Continue reading

Kisah Si Kumbang

kumbangPada suatu ketika, terdapatlah seekor kumbang malang yang jatuh telentang dan sedang berusaha bangun dari posisinya itu. Sudah lama sekali ia meronta-ronta untuk dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Berkali-kali ia mencoba namun tetap saja ia tidak bisa membalikkan tubuhnya. Dalam hati ia berkata,” aku pasti bisa!”

Tidak jauh darinya, ada sepasang mata lain yang sedang memperhatikannya. Hewan itu tampak meloncat kesana kemari dengan lincah, namun bukan panik melainkan sedang tertawa terbahak-bahak melihat kumbang yang setengah mati berusaha membalikkan tubuhnya untuk berdiri seperti biasanya.

Continue reading

Dorongan Lebah dan Keberanian Siput

siputPada suatu ketika ada seekor siput tanah, sedang berjalan sendirian di atas permukaan sebuah sumur yang dangkal. Hari itu begitu panas, karena musim panas mulai datang. Matahari yang terik memaksa siput muda itu untuk segera mencari daerah yang lembab atau basah baik untuk memuaskan dahaga ataupun untuk mendinginkan badannya yang lelah karena panas. Ia pun merayap dengan lambat. Namun karena tidak memperhatikan permukaan sumur yang licin, siput malang itu jatuh ke dalam sumur. Ia jatuh tepat di atas seonggok lumut yang mengambang di atas permukaan air. Tubuhnya basah karena air. Ia agak takut, karena ia tidak dapat berenang. Lagian, bangsa siput tanah tidak biasa berada dekat permukaan air. Setelah menunggu beberapa saat, ia mencoba untuk merayap ke tembok untuk keluar. Pijakannya cukup kuat karena lumut tersebut telah merapat ke tembok sumur. Air yang tenang tidak membuat lumut yang mengambang itu berguncang. Dengan pelan sekali ia merayap menaiki tembok yang lembab itu. Namun berkali-kali ia tergelincir ke bawah. Ia terus berusaha, namun sayang masih tetap saja belum berhasil. Kini, ia mencoba untuk memahami bagian dari tembok mana yang dapat ia lewati untuk memijakan badannya. Kali ini ia hampir berhasil. Setelah merayap dengan lambat, ia mulai kelelahan. Ia pun beristirahat sejenak. Rumah keongnya yang besar membuat ia harus bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Seekor lebah yang sedang mencari madu, terbang mendekatinya. Ia merasa tertarik dengan sosok aneh yang ada di depannya. Sang siput tanah dengan ramah menyapa sang lebah.

Continue reading

Ayam Jago

ayam jagoDi sebuah perkampungan di dekat sebuah rimba yang sunyi tinggallah sekelompok manusia beserta binatang-binatang peliharaan mereka. Masyarakat yang hidup di tempat tersebut lebih banyak bekerja sebagai petani dan peternak. Jadi, tidak heran kalau setiap hari bisa terlihat dimana-mana, ada saja hewan-hewan ternak mereka yang lalu lalang di jalan-jalan dalam desa. Ternak mereka sangat banyak dan berjenis-jenis antara lain seperti ayam, itik, bebek, anjing, kambing dan lain-lain. Semuanya hidup bersama.

Di sebuah kandang seorang peternak ayam, hiduplah seekor ayam jago yang sangat dikagumi dan disayangi tuannya. Setiap hari ia dimandikan dengan air bersih, diberi pakan khusus agar ayam kesayangannya itu jadi sehat dan kuat. Tidak hanya itu, di kaki-kaki ayam jagonya yang sehat itu dipasanginya sepasang taji yang dilengkapi dengan sebuah logam pipih panjang dan tajam. Pemiliknya menjadikan si ayam jago seekor ayam kampung petarung yang tangguh untuk bertaruh. Hampir setiap hari ia selalu mengadu ayam dan memenangkan taruhan.

Continue reading

Petualangan Yau si Semut Merah

Sekelompok semut merah bersama-sama sedang mencari makanan dengan berjalan beriringan. Mereka selalu berkomunikasi dengan sungut-sungutnya yang kecil. Selalu saja mereka menabrak yang satu dengan yang lain untuk menunjukkan arah mana yang harus dituju. Tidak semua semut merah melakukan hal yang menjadi kebiasaan para semut tersebut. Seekor semut merah bernama Yau mencoba berjalan sendirian. Ia pun keluar dari barisan iring-iringan bangsa semut merah. Ia terus berjalan semaunya. Tanpa disadari ia telah berjalan jauh sendirian meninggalkan semua teman-temannya.

Yau terus maju, sungutnya bergetar hebat saat ia berhasil menabrak sebuah bongkahan gula merah segar yang hancur karena diinjak oleh kaki manusia.

Yau memperhatikan dengan seksama. Aroma kelezatan gula itu membuatnya merasa lapar. Ia pun makan.

Continue reading

Pembalasan yang Sia-sia

biri biriDi sebuah peternakan milik keluarga Joey, terdapatlah berbagai ternak mulai dari unggas hingga beberapa hewan besar seperti beberapa ekor sapi, kerbau dan kuda. Tidak hanya itu masih terdapat hewan lain seperti domba, kambing dan beberapa ekor babi berbulu merah keemasan. Ternak-ternak ini sangat terpelihara dengan baik. Keadaan mereka semuanya sehat dan gemuk-gemuk. Tuan Joey, si pemilik peternakan itu begitu sayang kepada semua ternaknya itu. Ia selalu rajin memberi mereka makan dan memberikan obat untuk ternaknya yang sakit. Kini beberapa hewan unggas ternakannya sedang bertelur. Setiap hari peternakan itu selalu ramai oleh suara-suara mereka yang membaur menjadi satu. Suara-suara hewan yang riang, senang dan gembira. Tapi ada juga yang saling marah, mengejek dan berkelahi. Demikianlah kelakuan mereka masing-masing.

Tepat di sebelah lahan peternakan itu terdapatlah sebidang tanah lapang yang luas penuh ditumbuhi oleh rerumputan hijau yang segar. Tanahnya begitu gembur dan subur. Ada banyak kupu-kupu, cacing dan masih banyak lagi serangga yang lucu berkumpul dan mencari makan di sana. Bila matahari bersinar dengan cerah di setiap paginya, pak Joey akan membuka pintu peternakan dan membiarkan beberapa ekor kuda, kambing dan domba merumput di sana. Lapangan berumput hijau itu sangat luas, sehingga hewan-hewan ternak itu dapat bebas bermain, tidur-tiduran atau berlari-larian sesuka hati. Tapi tentu saja harus ada yang menjaganya. Bronndy, si anjing herder yang setia dan rajin selalu mengawasi mereka. Ia tahu dengan baik kemana saja hewan itu pergi bila ada yang mencoba menghilang atau tersesat.

Continue reading

Ketidaktaatan Membawa Kehancuran

Pada suatu ketika, si raja hutan singa Bulu Merah, memberikan sebuah mandat kepada Nasu, gorila jantan yang menjabat sebagai panglima perang dari rimba utara untuk mengawasi garis pertahanan hutan rimba. Perintah ini diberikan dengan sangat serius. Dalam perintah itu, raja singa Bulu Merah menyuruh agar Nasu gorila memperhatikan dan memantau segala keadaan dan akitivitas hutan rimba di setiap saat, setiap hari, siang ataupun malam. Ia diharapkan selalu waspada.

Raja hutan ini terkenal sangat bijak dan juga sangat buas terhadap hewan-hewan yang berbuat tidak sepatutnya menurut cara hidup mereka. Mereka semua harus menjalankan kehidupan mereka secara wajar. Makan memakan dalam jaringan kehidupan binatang selalu ada namun harus ada yang mengaturnya, baik dari wilayah kekuasaan dan hukumnya. Untuk itu singa Bulu Merah sebagai raja hutan sangat berhati-hati dalam menjaga dan melindungi keselamatan hutan rimba dan penghuninya. Apalagi bahaya akibat perbuatan manusia yang lalim, yang seenaknya melebarkan kekuasaan atas hutan rimba. Manusia secara sewenang-wenang merusak, menebang dan menangkap satwa hutan yang tidak bisa menyelamatkan dirinya. Raja hutan pun membandingkan dan menceritakan bahwa manusia adalah makluk yang sempurna, tapi sayang bisa menjadi penghancur rimba dan penghuninya dengan sangat sempurna. Untuk itu, penjagaan yang ketat dari hewan-hewan rimba sangat diperlukan. Manusia adalah ancaman terberat bagi kelangsungan hidup mereka.

Continue reading

Kesombongan Pegasus

Di suatu hari yang cerah di negeri antah berantah, di bawah sinar matahari yang hangat, tampaklah seekor pegasus yang gagah, bersayap putih lebar, sedang terbang dengan anggunnya di atas pepohonan pinus yang tumbuh ramai di bawah lembah. Bayangannya yang tampak indah dan besar seperti sedang berlari-lari melewati hutan-hutan pinus yang membiru jauh di bawahnya. Beberapa kali ia terbang melewati barisan gunung-gemunung dan bukit siang itu. Semua pemandangan muka bumi itu dapat dilihatnya dengan baik. Bulunya yang putih berkilat terpantul sinar matahari sungguh membuatnya semakin cantik dan elok, apalagi oleh sepasang sayap yang kuat dan indah. Beberapa hewan besar seperti sang perkasa grifith, rajawali utara, hingga sang elang raja putih pun turut mengagumi sayap-sayap pegasus. Pegasus makluk ciptaan yang luar biasa.

Siang itu udara yang panas oleh sinar matahari yang terik telah menjalar ke seluruh penjuru lembah. Hewan-hewan yang ada di darat enggan untuk keluar. Mereka takut kelelahan karena panas tersebut. Karena itu banyak dari mereka lebih memilih untuk beristirahat dan berteduh di bawah pohom-pohon yang rindang.

Continue reading

Bruno yang Malang dan Minny yang Licik

Keluarga tuan Mory memiliki sepasang hewan peliharaan yaitu seekor anjing jenis herder yang bernama Bruno dan seekor kucing bernama Minny. Siang ini, mereka tampak tertegun ketika melihat ikan goreng milik tuannya yang baru saja selesai dibuatkan oleh pembantu keluarga itu. Ikan yang sudah digoreng itu ditaruh di atas piring makan majikan mereka, tuan Mory. Ikan goreng itu diletakkan begitu saja di atas meja makan tanpa ditutupi dengan tudung saji. Aroma ikan goreng yang gurih membuat kedua hewan itu sangat bersemangat. Telah terbayang di benak mereka untuk dapat menikmati sajian ikan goreng yang gurih kepunyaan tuan Mory. Perut mereka semakin bergetar hebat. Liur pun turun membasahi mulut mereka.

Sedang dalam diam mereka, Minny si kucing sedang berpikir keras merencanakan untuk mencuri ikan itu. Katanya dalam hati, “Hmm, slurp… lapar sekali aku. Meoww…. perutku lapar sekali, sungguh-sungguh…..huu. wow ikannya seakan-akan memanggilku…. mmmh…sungguh-sungguh menggiurkan, gemuk, gurih dan renyah, mmmmeong…!” lalu ia beranjak dengan pelan sekali menuju meja makan itu. Jalannya dibuat dengan sangat lambat sekali. Ia menganagkat kepala dan kemudian memandangi meja itu lagi. “Hmm, tinggi sekali. Coba aku lihat dulu. mmh… aku harus meloncat ke kursi yang lebih tinggi itu,nah baru ikan itu akan jelas kelihatan.” kata Minny sambil memperhatikan kursi meja makan di pinggir meja makan. Di dekatknya ada Bruno si anjing berdiri dengan tenang ditopang kedua kakinya.

Continue reading

Kisah Ibu Rajawali dan Ibu Elang yang Tidak Bijaksana

Pada suatu ketika, di sebuah hutan yang lebat di pedalaman Afrika, terdapatlah sebuah pohon besar yang disebut orang dengan nama pohon bunyu. Di  setiap cabang dan ranting pohon itu tinggallah hampir segala jenis burung di hutan itu. Mereka membangun sarangnya masing-masing. Selain untuk tinggal juga untuk bertelur dam meneruskan keturunan. Namun, tidak sedikit burung yang datang dan sekedar mampir untuk beristirahat.

Sekarang musim kering hampir berakhir dan tanda datangnya hujan belum tampak sama sekali. Semua hewan resah menunggunya. Tidak hanya itu, masa perkawinan bertelur bagi semua burung-burung di rimba raya pun dimulai. Untuk menyambutnya, setiap burung-burung betina yang tinggal di pohon bunyu itu mulai membangun dan menyiapkan sarangnya masing-masing menjadi lebih baik dan kuat. Dan yang tidak ketinggalan untuk bertelur pada masa itu adalah dua ekor burung betina besar yang sangat terkenal di hutan itu. Seekor burung rajawali betina dan burung elang betina. Keduanya tinggal bersama di atas sebuah dahan yang paling tinggi di pohon tersebut. Mereka hidup rukun antara satu sama lainnya. Tidak saling ribut, berkelahi atau pun berceloteh. -Karena sebentar lagi akan bertelur, maka status kedua burung betina ini akan menjadi ibu, makanya kita boleh menyebut mereka ibu rajawali dan ibu elang.-

Continue reading