Nabang Si Penunggang Paus

Pada suatu masa saat pulau Andalas dipimpin oleh Sultan Alam, datanglah raja dari Negeri Penyu bernama Si Meulue, menjumpai Sultan Alam, “Sultan Alam  yang perkasa, hamba datang ke istana tuan untuk mengadukan permasalahan yang sedang kami hadapi,” jelas Raja Penyu Si Meulue dengan air mata berlinang.

“Wahai Raja Penyu sahabatku sampaikanlah apa yang menyebabkan engkau gelisah dan bersedih?“ selidik Sultan Alam.

“Negeri hamba, pulau penyu, sudah tidak aman lagi, seekor naga raksasa bernama Smong telah menyerang dan membunuh rakyat hamba, setiap hari ada korban yang jatuh, sebagian rakyat hamba sudah mengungsi kepenjuru dunia karena khawatir akan di mangsa oleh Smong si naga raksasa itu,” jelas Raja Penyu sambil menangis.

Sultan Alam terpukul mendengar penderitaan rakyat dari Kerajaan Penyu, beliau sangat sedih atas kejadian tersebut.

“Sahabatku, aku akan membantu Kerajaan Penyu mengusir naga Smong tersebut,” janji Sultan Alam dengan suara bergetar.

Tak lama kemudian Sultan Alam mengumpulkan para menteri dan panglima kesultanan Alam dan menceritakan penderitaan Raja Penyu Si Meulue dan rakyatnya di negeri Penyu.

Maka berdirilah seorang Panglima Laot dan berkata,” Padukan Sultan Alam Perkasa nan bijaksana, izinkan hamba berbicara.”

“Silahkan Panglima Laot,” Sultan mempersilahkan.

“Sudah banyak laporan dari kapal dagang dan nelayan-nelayan dari Barus bahwasanya mereka melihat makhluk raksasa dari kejauhan saat belayar, makhluk itu bila bergerak menyebabkan gelombang yang tinggi,” Jelas Panglima Laot.

“Bagaimana cara kita mengusir makhluk tersebut Pang Laot?” Tanya Sultan Alam.

“Hamba sudah berdiskusi dengan laksamana-laksamana angkatan laut kita, mereka semua ngeri mendekati perairan negeri penyu, beberapa nelayan telah melihat banyak penyu melarikan diri dari pulau itu dengan tergesa-gesa,” tambah Panglima Laot.

Tiba-tiba seorang pangeran dari Negeri Barus berdiri,”Yang Mulia Sultan Alam yang Perkasa, raja dari raja-raja negeri Andalas, izinkan hamba pangeran dari Barus berbicara mewakili Ayahanda hamba.”

“Silahkan Ananda Pangeran dari Negeri Barus,” Sultan mempersilahkan.

“Kalau Paduka berkenan, saya mengenal seorang bocah, putra dari seorang Laksamana di negeri hamba, ayahandanya telah lama hilang dilaut, konon bocah tersebut telah mengelilingi seluruh samudra untuk mencari Ayahandanya namun belum berhasil menemukannya. Dia menguasai lautan lebih dari siapapun, kami menyebutnya Nabang si penunggang paus,” jelas Pangeran dari Barus.

“Namun hamba tidak tahu dimana keberadaan bocah tersebut saat ini, karena dia hidupnya dilaut dan selalu berpindah-pindah,” tambah Pangeran dari Barus.

“Lalu bagaimana kita mengenalinya?” Tanya Sultan Alam.

“Apabila kita mendengar suara seruling yang sangat merdu namun menyayat hati penuh kesedihan, itu tandanya bocah tersebut ada di sekitar daerah tersebut,” jelas Pangeran dari Barus.

Sultan Alam terkesima mendengar cerita tersebut dan segera setelah pertemuan selesai Sultan memanggil sahabatnya si Elang Raja.

“Elang Raja terbanglah engkau, carilah seorang bocah bernama Nabang si penunggang paus, aku ingin bertemu dengannya,” perintah Sultan Alam.

Maka terbanglah Elang Raja menunaikan perintah sang Sultan.

Keesokan harinya saat matahari mulai terbit di depan Istana Alam berdiri seorang bocah kurus berperawakan tinggi dengan seruling yang menggelantung di dadanya.

“Hamba diminta menghadap Sultan Alam yang Perkasa, raja dari raja-raja Negeri Andalas,” Jelas bocah tersebut kepada pengawal Istana.

Kemudian pengawal istana membawa bocah itu kedalam istana untuk menghadap sang Sultan yang semalaman tidak bisa tidur memikirkan malapetaka yang menimpa sahabatnya raja penyu.

“Engkaukah Nabang si penunggang paus?” Tanya Sultan penasaran.

“Benar tuanku, hamba bernama Nabang yang paduka maksud,” jawab bocah itu.

“Dendangkanlah sebuah lagu untukku,” pinta Sultan.

“Hamba hanya mengalunkankan lagu kesedihan Paduka Tuannku,” tambah Nambang

“Ya, aku ingin mendengarkannya,” pinta Sultan Alam.

Kemudian bocah tersebut mulai meniup serulingnya, Sultan dan orang-orang di istana yang mendengar alunan seruling tersebut seketika mengalirkan air mata merasakan kesedihan yang mendalam dari alunan seruling tersebut.

Setelah selesai mengalunkan sebuah lagu dengan serulingnya bocah tersebut bertanya, ”Tuangku Sultan Alam yang Perkasa, raja dari raja-raja negeri Andalas, apakah yang paduka inginkan dari hamba sehingga paduka meminta hamba menghadap paduka?”

“Ananda Nabang, sahabat saya Raja Si Meulue, Raja Penyu dari Negeri Penyu, telah datang menceritakan malapetakan yang mereka alami, seekor naga raksasa bernama Smong telah menyerang pulau mereka, naga Smong tersebut memangsang penyu-penyu tersebut,” terang Sultan Alam.

Si Nabang mendengar dengan seksama.

“Tiada laksamana kesultanan yang berani menghadapinya, saya ingin mengangkan seorang laksaman untuk menghadapi naga Smong tersebut, seorang putra dari laksaman pemberani dari negeri Barus, Nabang si penunggang paus,” Sultan menjelaskan maksudnya.

 “Sebuah kapal besar lengkap dengan peralatan perang dan pasukan angkatan laut pilihan sudah kami siapkan untuk Ananda laksamana,” jelas panglima perang kesultanan Alam.

Si Nabang masih terkesima tidak terucap sepatah katapun, hingga akhirnya dia tersedar dan berkata, ”Sultan Alam yang perkasa, tiada makhluk yang mampu mengalahkan naga Smong, hamba tidak perlu kapal dan pasukan karena akan sia-sia, biarlah hamba pergi sendiri menjalankan perintah tuanku.”

Setalah memberi penghormatan kepada Sultan Alam, Si Nabang pergi meninggalkan istana menuju pantai sambil meniup seruling dengan alunan kesedihan.

Keesokan harinya terjadilah perkelahian yang dasyat di samudra dekat pula penyu, negerinya Raja Penyu Si Meulue, seorang bocah yang menunggangi ikan paus raksasa bertarung melawan naga raksasa. Beberapa kali bocah tersebut terlempar dari punggung ikan paus yang terpukul oleh ekor naga dan juga beberapa kali naga terjerebah ke dasar samudra terkena serudukan ikan paus. Pertarungan dahsyat tersebut sepertinya akan dimenangkan oleh naga Smong, ikan paus sahabat Si Nabang sudah terhuyung-huyung dan jatuh kedasar samudra sedangkan naga smong terus menyerangnya. Saat melihat sahabatnya jatuh kedalam samudra, Si Nabang mengambil serulingnya dan meniupkan alunan sedih, tampa diduga naga yang mendengar alunan  seruling tersebut menjadi tenang dan berhenti menyerang ikan paus dan tak lama kemudian tertidur pulas, setiap seruling itu berhenti mengalun maka naga Smong akan terjaga, lalu ditiup lagi seruling itu oleh Si Nabang sehingga naga itu tertidur kembali.

Kemudian ikan paus sahabat Si Nabang mendorong naga Smong yang tertidur itu kedasar samudra dan mengurungnya dalam celah didasar samudra.

Setelah memastikan naga Smong terkurung dengan kuat di dasar samudra, maka Si Nabang memanggil Elang Raja untuk menyampaikan berita gembira kepada Sultan Alam sekaligus memberi peringatan kepada seluruh rakyat negeri Andalas akan sebuah bahaya yang datang dikemudian hari.

Kemudian Elang Raja terbang menemui Sultan Alam, “ Tuanku Sultan Alam, hamba membawa pesan dari laksamana Nabang, bahwa dia sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah mengurung Smong si naga raksasa di dasar samudra,”

Sultan Alam gembira sekali mendengar berita dari Elang Raja.

“Paduka Tuanku, laksaman Nabang juga meminta kepada Tuanku Sultan Alam agar menyampaikan kepada seluruh rakyat negeri Andalas, apabila suatu hari nanti naga raksasa tersebut terbangun, dia akan  marah dan mengamuk dengan menggoncangkan dasar samudra sehingga bumi bergoncang kuat, terkadang naga Smong akan menghisap air laut hingga surut maka mintalah rakyat untuk mengungsi ketempat yang lebih tinggi karena setelah itu dia akan menghamburkannyan, sehingga air laut bergelombang tinggi akan menyapu daratan. Setelah itu naga Smong akan kelelahan dan tertidur lagi untuk mengumpulkan tenaganya dan suatu saat akan terbangun lagi untuk menggoyang dasar samudra tempat dia dikurung,” jelas Elang Raja.

Maka di sebarlah peringatan dari Laksamana Nabang si penunggang paus keseluruh negeri Andalas agar mereka bersiap menghadapi ancaman dari naga Smong.

Maka sejak itu Nabang si penunggang paus menetap di pulau penyu bersama Raja Penyu Si Meulue dan rakyatnya, menjaga pulau tersebut dari amukan gelombang raksasa yang sesekali menyerang pulau Simeulue

Apabila terjadi gempa besar kemudian disusul dengan surutnya air laut maka orang-orang dipulau Simeulue akan berteriak SMONG!, SMONG!, SMONG!, untuk mengingatkan orang-orang akan datangnya gelombang tinggi dari laut (tsunami).

(seri dongeng kesiap-siagaan bencana)

wildansenist @gmail.com

Tsunami Drill

 

“Hari ini kita akan lakukan Tsunami Drill!” teriak bu Anisa didepan kelas yang sedang riuh.

Seketika suasana kelas tiga langsung senyap, murid-murid saling berpandangan mereka tidak paham apa yang dimaksud oleh ibu guru.

Tsunami Drill artinya kita berlatih menghadapi bencana tsunami!” terang ibu Anisa kembali

“Ohhh!” teriak anak-anak kelas tiga serentak

Kemudian ibu Anisa menerangkan apa itu tsunami drill dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada saat tsunami drill.

“Baik anak-anak!, nanti kakak-kakak dari BPBD akan menerangkan langkah-langkahnya lebih jelas,” terang ibu Anisa.

“Ada yang tahu kepanjangan dari BPBD?” tanya ibu Anisa.

Semuanya terdiam.

“Baiklah kalau tidak ada yang tahu, BPBD adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” jelas ibu Anisa, kemudian ibu Anisa menjelaskan fungsi dan peran dari BPBD tersebut.

“Ibu akan rapat dulu dengan kakak-kakak dari BPBD di ruang kepala sekolah, anak-anak di harapkan menyiapkan diri,” pinta ibu Anisa

Ali segera mendekati Noval dan Feri,” ayo kita main bola di lapangan belakang sekolah!” ajak Ali

“Ehmm, apa nanti ibu guru tidak marah?” Tanya Feri

“Ibu sedang rapat di ruang kepala sekolah, nanti dilanjutkan dengan latihan menghadapi tsunami, jadi kita tidak perlu ikut,” aja Ali

“Saya ikut ya,” sahut Iwan

Lalu keempat sahabat tersebut pergi ke lapangan di belakang sekolah dan bermain sepak bola disana.

Ketika sedang asyik bermain sepak bola, tiba-tiba dari sekolah terdengar bunyi lonceng sekolah.

“Kok bunyi lonceng ya?” Tanya Ali

“Ah, pasti untuk mengumpulkan anak-anak,” kilah Feri

Mereka melanjutkan bermain bola

Sedangkan disekolah anak-anak sudah mulai melakukan tsunami drill, dimulai dari kesiapan menghadapi gempa bumi, ditandai dengan bunyi lonceng sekolah anak-anak dan ibu bapak guru mengukuti instruksi dari kakak-kakak dari BPBD.

Saat gempa mereka berjongkok di lantai dan meletakkan tas mereka di atas kepala serta menjauh dari jendela kaca, setelah gempa berhenti kemudian ibu bapak guru memimpin anak-anak dikelas masing-masing untuk keluar dari ruang kelas menuju pekarangan sekolah.

Setelah itu tak lama kemudian bunyilah sirine, anak-anak bersama ibu bapak guru berjalan menuju ke escape building yang di pimpin oleh kakak-kakak dari BPBD. Di escape Building anak-anak diajarkan membaca doa-doa, sedangkan beberapa anak di ajarkan cara menolong korban yang luka dan sakit.

Sementara itu saat mendengar bunyi sirine Ali dan kawan-kawan yang sedang bermain sepak bola kaget. Mereka menghentikan permainan sepak bola.

“Apa itu sirine tsunami? Tanya Noval

Serentak mereka berlari menuju sekolah, namun karena panik mereka saling bertabrakan sehingga terjatuh di pinggir jalan, Ali, noval dan Feri terluka di lutut kaki dan di siku karena terguling di jalan saat menuju sekolah.

Seangkan Iwan dengan sigapnya berlari ke dalam sekolah, alangkah kagetnya mereka di sekolah sudah tidak ada orang lagi, ruangan kelas juga sudah di kunci. Sedangkan sirine tsunami masih terus-menerus meraung-raung.

Mereka berempat ketakutan dan berpelukan di tengah-tangah pekarangan sekolah sambil menangis memanggil-mangil ayah dan ibu mereka.

“Kita harus bagaimana, nanti kalau tsunami datang kita bagaimana,” renget Noval sambil terus menangis.

Tak lama setelah sirine tsunami berhenti dari pintu gerbang sekolah terdengar hirup piku suara anak-anak yang baru kembali dari escape building. Mereka heran melihat Iwan, Noval, Feri dan Ali yang menangis di tengah-tangah halaman sekolah.

“Ada apa Noval?” tanya ibu kepala sekolah

“Tsu.. Tsu..Tsunami” jawab Noval terisak-isak

Maka tertawalah semua orang yang baru pulang dari escape building saat mendengar jawaban dari Noval.

“Makanya kalau lagi ada tsuami drill jangan bolos,” nasehat ibu kepala sekolah sambil menggeleng-geleng kepala.

Kemudian kakak-kakak dari BPBD mendekati keempat sahabat tersebut untuk mengobati luka-luka mereka.

(seri dongeng kesiap-siagaan bencana)

wildansenist @gmail.com

Sahabat Cicil

Cicil adalah burung bangau kecil yang cantik dia mempunyai sahabat si manis kucing kecil dan si Rara musang kecil. Cicil sangat suka ikan dan sering menangkap ikan di pantai demikian juga dengan si Manis dan si Rara juga suka makan ikan. Rara suka menagkap ikan di rawa-rawa dekat pantai sedangkan si manis suka mencuri ikan milik nelayan di dekat pelabuhan. Cicil si bagau kecil  suka sekali memberi hadiah ikan kepada si manis dengan harapan agar si Manis tidak mencuri ikan milik nelayan lagi. Tapi si Manis sering menolak ikan pemberian Cicil karena  Cicil suka menangkap ikan yang masih kecil.

“Hai Cicil mengapa engkau selalu menangkap ikan yang kecil-kecil?, ikan yang sudah besar lebih lezat”, protes si Manis suatu hari.

“Ibuku selalu berpesan agar menangkap anak ikan , karena kalau kita menangkap ikan dewasa apa lagi induk ikan, akan menyebabkan jumlah ikan di laut akan berkurang”, jawab si Cicil.

“Ah kamu selalu begitu, ikan dewasa lebih gurih, aku tidak mau makan anak ikanmu ini”, kata Manis si kucing sambil melemparkan kembali anak ikan itu kearah Cicil.

Pada suatu pagi yang cerah Cicil, Rara dan Manis sedang bermain-main di pantai, tiba-tiba terjadi gempa yang dahsyat, ketiga sahabat itu ketakutan, Rara dan Manis saling berpelukan sedangkan Cicil terbang ke udara.

“Mengapa bumi bergocang ya?”Tanya Manis setelah kejadian

“Ini namanya gempa bumi, bumi bergoyang apabila ada gunung yang meletus, atau ada tanah longsor atau karena pergerakan lempeng bumi dan bisa juga karena sebab yang lain seperti ledakan bom dan lain-lain”, Jelas Cicil kepada kawan-kawannya yang masih ketakutan.

“Kalau terjadi gempa bumi tidak perlu panik dan takut, segeralah keluar dari ruangan menuju lapangan terbuka sehingga kita tidak tertimpa benda-benda di atas kita”, tambah Cicil.

Tak lama kemudian air laut pun surut, ketiga sahabat kegirangan melihat ikat-ikat bergeleparan di pantai, mereka menangkap ikan-ikan tersebut dan melahapnya. Namun tiba-tiba dari rimbunan hutan bakau burung-burung berterbangan manjauhi pantai, ketiga sahabat tersebut keheranan ada apakah gerangan burung-burung berterbangan menjauhi pantai. Ketegunan mereka tidak berlangsung lama, kemudian mereka kembali menangkap ikan-ikan yang bergeleparan di pantai karena air laut yang surut.

Tiba-tiba Rara si Musang teringat sesuatu, “ kawan-kawan ini bertanda buruk, apabila air laut surut tiba-tiba tanpa sebab maka akan datang gelombang yang sangat besar menerjang pantai”, jelas Rara dengan ketakutan.

“Benarkan demikian Rara?” Tanya Cicil

“Kakekku sering bercerita mengenai hal ini, dan apabila terjadi kejadian ini, saya diminta pergi menuju ke atas bukit karang di belakang hutan bakau ini”, tambah Rara

“Ah, kamu percaya saja dengan dongengannya kakek si Rara”, sambut Manis sambil terus melahap ikan-ikan didepannya.

“Kalau begitu aku mohon pamit kawan-kawan, aku harus mengikuti pesan kakekku”, pamit Rara sambil berlari meninggalkan kawan-kawannya menuju bukit karang yang terletak beberapa ratus meter di belakang hutan bakau.

“Apakah engkau tidak sebaiknya mengikuti Rara ke atas bukit karang?” Tanya Cicil kepada si Manis.

“Ah, tidak usah dipikirin si Rara, dia selalu begitu, penakut”, tanggap si Manis

Tiba-tiba dari atas langit Cicil mendengar panggilan ibunya,” Manis, aku dipanggil ibuku, aku menemui beliau dulu ya?”, kata si Cicil

“Ah dasar anak mami, ya sudah pergilah biar aku habiskan ikan-ikan yang lezat ini!”, kata si Manis

Sebelum meninggalkan si Manis, Cicil sempat mengingatkan lagi agar si manis mengikuti Rara ke atas Bukit Karang.

Beberapa saat setelah Cicil terbang mengikuti ibunya, ia menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya ia ketika melihat ke tengah laut, gelombang raksasa yang di ceritakan Rara benar-benar terjadi. Warnanya hitam pekat seperti tembok yang sangat besar dan panjang, berjalan di tengah laut menuju ketepi pantai. Seketika Cicil teringat saahabatnya si Manis, matanya tertuju ke pantai dan melihat si manis masih disana melahab ikan-ikan. Kemudian ia melihat ke atas bukit karang dan dilihatnya sahabatnya si Rara berteriak-teriak memanggil-manggil si Manis, namun si Manis tidak mendengarkan karena terlalu jauh.

Tak lama kemudian malapetaka itupun terjadi, gelombang raksasa datang menghatam pantai dan menenggelamkan pantai serta menghancurkan hutan bakau. Air mata Cicil tidak terbendung melihat kejadian tersebut, tempat tinggal dan tempat bermain mereka hancur seketika di hempas gelombang raksasa. Setelah musibah itu usai, cicil terbang melayang-layang di sepanjang pantai dan hutan bakau untuk mencari sahabatnya si Manis, namun tidak berhasil menemukannya.

Kemudian Cicil dan ibunya pindah ikut migrasi dengan kelompok burung-burung kehutan bakau lain yang tidak terkena gelombang besar, namun sesekali dia menemui sahabatnya si Rara di bukit karang dan sesekali terbang mengintari pantai dan hutan bakau yang rusak karena gelombang besar dengan harapan bisa melihat sahabatnya si Manis.

(seri dongeng kesiap-siagaan bencana)

wildansenist @gmail.com

Raja Telong dan Pemuda Linge

Pada suatu masa di dataran tinggi Gayo berkuasalah seorang raja yang lalim bernama Telong, dia merupakan raja yang sangat kejam sehingga rakyatnya hidup dalam ketakutan. Raja mempunyai seorang putra yang bernama Peusangan, yang senang berburu hewan-hewan liar dihutan, saat berburu dia suka membakar hutan untuk menjebak hewan-hewan tersebut, sehingga lama kelamaan hutan didataran tinggi Gayo menjadi gundul.

Pada suatu waktu terjadilah musim kemarau yang panjang di dataran tinggi Gayo sehingga terjadi kekeringan yang parah dikarenakan gunung dan bukit disekitarnya sudah lama gundul sehingga tidak mampu menyimpan air. Maka Raja Telong memerintahkan rakyatnya menggali sebuah telaga yang dalam untuk mendapatkan mata air, bagi mereka yang menolak melaksanakan kerja paksa tersebut akan di hukum berat. Namun air yang diharapkan tidak kunjung didapat padahal sudah banyak korban yang meniggal dunia.

Sorang musafir berasal dari pedalaman tanah Gayo bernama Linge kebetulan sedang melewati telaga itu merasa prihatin lalu menghadap Raja Telong dan putranya untuk memohon agar kerja paksa yang sia-sia itu dihentikan.

“Wahai Raja Telong, sudah banyak rakyat yang mati karena kerja paksa yang baginda perintahkan, tapi mata air tidak kunjung di temukan, mohon agar pekerjaan ini dihentikan,” pinta Linge.

Raja telong kaget dan marah karena ada orang yg berani menentang perintahnya. ”Wahai anak muda kamu telah berani menentang perintahku, kamu tahu hukumannya?”

“Wahai Tuanku Raja Telong, tiada maksud hamba menentang perintah tuan, tetapi ingin mengingatkan sudah banyak rakyat yang meninggal saat menggali telaga yang tuan perintahkan,” terang Linge.

Sejenak Raja Telong terdiam dan berfikir, ”Baiklah anak muda, aku akan perintahkan rakyatku untuk menghentikan penggalian tersebut, tapi perkerjaan mereka akan engkau gantikan, engkaulah yang harus menggali sendirian sampai keluar air dari telaga tersebut.”

Linge tertegung dengan perkataan sang Raja, sejenak pemuda itu menundukan kepalanya kemudian dia kembali bicara kepada raja, ”Wahai Raja Telong, hamba akan laksanakan perintah tuan, tetapi apa yang hamba dapatkan kalau hamba berhasil mengalirkan air dari telaga itu.”

Sejenak Raja Telong berfikir, sambil tersenyum sang raja berkata, ”Anak muda, seluruh rakyatku sudah menggali telaga itu berminggu-minggu dan sudah sangat dalam dan lebar tetapi setetes airpun tidak keluar dari telaga itu.”

“Ayah, kalau saja dia bisa mengairi telaga kering itu seperti lautan maka berikan saja kerajaan ini kepadanya!” potong Peusangan dengan nada mengejek.

“Baiklah anak muda, sesuai permintaan putraku , kalau saja kamu berhasil mengalirkan air ke telaga itu seperti lautan, maka aku akan serahkan kerajaan ini kepadamu,” lanjut sang raja dengan angkuh.

“Tuanku Raja Telong, hamba tidak ingin menjadi raja, tetapi kalau saja hamba berhasil mengalirkan air dari telaga itu maka hamba minta agar raja melakukan pertapaan selama-lamanya,” pinta Linge.

Raja Telong tersenyum sinis sambil menganggukan kepalanya, ”baiklah anak muda aku terima persyaratanmu dan mulai besok engkau akan menggali telaga tersebut tanpa makan dan minum sampai air mengalir dari telaga itu!” perintah sang Raja.

Keesokan harinya sebelum matahari terbit Linge sudah berada di telaga dan melakukan penggalian sendirian. Rakyat bersimpati dan kasihan kepada Linge yang telah mengambil alih tugas menggali telaga itu sendirian. Setiap ada orang yang hendak menghantar makanan untuk Linge selalu di halangi oleh pengawal raja.

Sudah tiga hari Linge bekerja dan sudah berhasil menggali sebuah lubang yang sangat dalam namun air tidak kunjung keluar, tenaga Linge semakin lemah dan pada hari keempat rakyat menemukan Linge sudah tergeletak tak bernyawa di samping lubang yang sedang di galinya. Maka berbondong-bondong rakyat mendatangi mayat Linge dan menangisinya, semakin siang rakyat yang datang semakin banyak memenuhi telaga itu.

Tak lama kemudian raja Telong dan putranya datang, ”Lihat pemuda sombong yang telah berani menentangku, kini dia sudah meninggal!” teriak Raja Telong dengan senyum kemenangan.

Setelah Raja Telong dan putranya Peusangan pulang ke Istana untuk merayakan kemenangan mereka, seorang tua mendatangi kerumunan rakyat yang sedang bersedih,

”Aku tadi malam bermimpi didatangi pemuda ini, beliau meminta kita semua pindah ke pedalaman sebelum malam tiba, karena akan turun hujan lebat sepanjang malam, sehingga gelombang air akan turun bergulung-gulung dari gunung-gunung yang gundul disekitar sini.”

Maka berbondong-bondong penduduk mengungsi menuju kepedalaman sesuai pesan dari pemuda itu,

Tidak lama kemudian terlihat awan hitam menggulung diatas kerajaan tersebut dan setelah matahari terbenam turunlah hujan sangat lebat dan mengalir memenuhi telaga dari bukit dan gunung yang gundul disekitarnya.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari telaga dan tak lama kemudian air bah itu mengarah ke istana raja dan menenggelamkannya.

Raja berhasil menyelamatkan diri, namun Peusangan sang putra mahkota tak berhasil diselamatkan.

Raja sangat sedih lalu mendatangi telaga dan berteriak, “hai Linge! aku akan memenuhi janjiku! maka hentikanlah hujan dan air bah ini! kembalikan putraku!”

Tak lama kemudian hujanpun berhenti dan raja kembali ke bekas istananya yang sudah menjadi tempat aliran sungai. Raja menyusuri aliran sungai itu guna mencari jenazah putranya sambil memanggil nama putranya.

”Peusangan, peusangan, oh peusangan,” teriak raja Telong.

Setelah menemukan jenazah putranya lalu dibawa ke sebuah bukit dan dikuburkan dipuncak bukit tersebut, kemudian Raja Telong melakukan pertapaan di samping makam putranya. Sesekali penduduk yang tinggal di dekat bukit itu mendengar gemuruh napas sang raja, terkadang terlihat asap keluar dari puncak bukit, makin lama bukit itu makin tinggi dan besar kemudian orang-orang di dataran tinggi Gayo menyebutnya Burni Telong (gunung Telong), sungai yang mengalir diatas bekas istana raja disebut Weih Peusangan atau Krueng Peusangan (sungai peusangan). Sedangkan telaga besar yang terbentuk disebut danau laut tawar, sebuah danau yang indah karena terbentuk dari pengorbanan yang tulus seorang pemuda Linge. Kerajaan yang kemudian berdiri di dataran tinggi Gayo diberinama Kerajaan Linge.

Dikirim Oleh : Wildan Seni wildansenist @gmail .com

Adi dan Berang-berang

(seri dongeng kesiap-siagaan bencana)

BY Wildan

Adi seorang anak yang rajin dan baik hati, dia tinggal disebuah desa kecil di kaki gunung Louser di Aceh. Sepulang sekolah Adi selalu membantu ibunya mencari ranting-ranting pohon untuk kayu bakar di hutan. Adi memiliki sahabat seekor berang-berang yang tinggal di sungai kecil di tengah hutan, Adi senang memperhatikan berang-berang saat membangun bendungan untuk sarangnya di sungai kecil tersebut. Terkadang mereka berdua berlomba-lomba menangkap ikan di sungai tersebut.

Suatu hari berang-berang bercerita kepada Adi tentang orang asing yang sering datang ke atas gunung tersebut, ”Mereka membabat pohon-pohon diatas hutan, gunung disebelah sana sudah gundul, akibatnya air sungai untuk sarangku semangkin berkurang”, keluh berang-berang.

“Benar berang-berang, ibu di kampung juga mengeluh kalau musim kemarau susah sekali mencari air bersih karena sungai jadi kering, kalaupun ada airnya keruh sekali”, imbuh si Adi

“Kalau musim penghujan datang sedangkan hutan diatas gundul serta log kayu yang besar-besar berserakan di atas sana akan sangat berbahaya”, kata berang-berang dengan nada ketakutan

“Mengapa berbahaya?”, Tanya Adi keheranan

“Kalau turun hujan maka air hujan akan terhambat oleh log kayu yang besar-besar itu, maka terjadilah genangan seperti bendungan, nah apabila hujannya semakin deras dan lama maka log-log kayu itu tidak mampu menahan jumlah air yang besar, maka log kayu akan pecah dan terjadilah banjir bandang yang akan menghantam desa-desa disepanjang aliran sungai ini”, jelas berang-berang.

Continue reading

Kisah Si Kumbang

kumbangPada suatu ketika, terdapatlah seekor kumbang malang yang jatuh telentang dan sedang berusaha bangun dari posisinya itu. Sudah lama sekali ia meronta-ronta untuk dapat berdiri dan berjalan dengan normal. Berkali-kali ia mencoba namun tetap saja ia tidak bisa membalikkan tubuhnya. Dalam hati ia berkata,” aku pasti bisa!”

Tidak jauh darinya, ada sepasang mata lain yang sedang memperhatikannya. Hewan itu tampak meloncat kesana kemari dengan lincah, namun bukan panik melainkan sedang tertawa terbahak-bahak melihat kumbang yang setengah mati berusaha membalikkan tubuhnya untuk berdiri seperti biasanya.

Continue reading

Dorongan Lebah dan Keberanian Siput

siputPada suatu ketika ada seekor siput tanah, sedang berjalan sendirian di atas permukaan sebuah sumur yang dangkal. Hari itu begitu panas, karena musim panas mulai datang. Matahari yang terik memaksa siput muda itu untuk segera mencari daerah yang lembab atau basah baik untuk memuaskan dahaga ataupun untuk mendinginkan badannya yang lelah karena panas. Ia pun merayap dengan lambat. Namun karena tidak memperhatikan permukaan sumur yang licin, siput malang itu jatuh ke dalam sumur. Ia jatuh tepat di atas seonggok lumut yang mengambang di atas permukaan air. Tubuhnya basah karena air. Ia agak takut, karena ia tidak dapat berenang. Lagian, bangsa siput tanah tidak biasa berada dekat permukaan air. Setelah menunggu beberapa saat, ia mencoba untuk merayap ke tembok untuk keluar. Pijakannya cukup kuat karena lumut tersebut telah merapat ke tembok sumur. Air yang tenang tidak membuat lumut yang mengambang itu berguncang. Dengan pelan sekali ia merayap menaiki tembok yang lembab itu. Namun berkali-kali ia tergelincir ke bawah. Ia terus berusaha, namun sayang masih tetap saja belum berhasil. Kini, ia mencoba untuk memahami bagian dari tembok mana yang dapat ia lewati untuk memijakan badannya. Kali ini ia hampir berhasil. Setelah merayap dengan lambat, ia mulai kelelahan. Ia pun beristirahat sejenak. Rumah keongnya yang besar membuat ia harus bisa menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Seekor lebah yang sedang mencari madu, terbang mendekatinya. Ia merasa tertarik dengan sosok aneh yang ada di depannya. Sang siput tanah dengan ramah menyapa sang lebah.

Continue reading

Ayam Jago

ayam jagoDi sebuah perkampungan di dekat sebuah rimba yang sunyi tinggallah sekelompok manusia beserta binatang-binatang peliharaan mereka. Masyarakat yang hidup di tempat tersebut lebih banyak bekerja sebagai petani dan peternak. Jadi, tidak heran kalau setiap hari bisa terlihat dimana-mana, ada saja hewan-hewan ternak mereka yang lalu lalang di jalan-jalan dalam desa. Ternak mereka sangat banyak dan berjenis-jenis antara lain seperti ayam, itik, bebek, anjing, kambing dan lain-lain. Semuanya hidup bersama.

Di sebuah kandang seorang peternak ayam, hiduplah seekor ayam jago yang sangat dikagumi dan disayangi tuannya. Setiap hari ia dimandikan dengan air bersih, diberi pakan khusus agar ayam kesayangannya itu jadi sehat dan kuat. Tidak hanya itu, di kaki-kaki ayam jagonya yang sehat itu dipasanginya sepasang taji yang dilengkapi dengan sebuah logam pipih panjang dan tajam. Pemiliknya menjadikan si ayam jago seekor ayam kampung petarung yang tangguh untuk bertaruh. Hampir setiap hari ia selalu mengadu ayam dan memenangkan taruhan.

Continue reading

Petualangan Yau si Semut Merah

Sekelompok semut merah bersama-sama sedang mencari makanan dengan berjalan beriringan. Mereka selalu berkomunikasi dengan sungut-sungutnya yang kecil. Selalu saja mereka menabrak yang satu dengan yang lain untuk menunjukkan arah mana yang harus dituju. Tidak semua semut merah melakukan hal yang menjadi kebiasaan para semut tersebut. Seekor semut merah bernama Yau mencoba berjalan sendirian. Ia pun keluar dari barisan iring-iringan bangsa semut merah. Ia terus berjalan semaunya. Tanpa disadari ia telah berjalan jauh sendirian meninggalkan semua teman-temannya.

Yau terus maju, sungutnya bergetar hebat saat ia berhasil menabrak sebuah bongkahan gula merah segar yang hancur karena diinjak oleh kaki manusia.

Yau memperhatikan dengan seksama. Aroma kelezatan gula itu membuatnya merasa lapar. Ia pun makan.

Continue reading

Pembalasan yang Sia-sia

biri biriDi sebuah peternakan milik keluarga Joey, terdapatlah berbagai ternak mulai dari unggas hingga beberapa hewan besar seperti beberapa ekor sapi, kerbau dan kuda. Tidak hanya itu masih terdapat hewan lain seperti domba, kambing dan beberapa ekor babi berbulu merah keemasan. Ternak-ternak ini sangat terpelihara dengan baik. Keadaan mereka semuanya sehat dan gemuk-gemuk. Tuan Joey, si pemilik peternakan itu begitu sayang kepada semua ternaknya itu. Ia selalu rajin memberi mereka makan dan memberikan obat untuk ternaknya yang sakit. Kini beberapa hewan unggas ternakannya sedang bertelur. Setiap hari peternakan itu selalu ramai oleh suara-suara mereka yang membaur menjadi satu. Suara-suara hewan yang riang, senang dan gembira. Tapi ada juga yang saling marah, mengejek dan berkelahi. Demikianlah kelakuan mereka masing-masing.

Tepat di sebelah lahan peternakan itu terdapatlah sebidang tanah lapang yang luas penuh ditumbuhi oleh rerumputan hijau yang segar. Tanahnya begitu gembur dan subur. Ada banyak kupu-kupu, cacing dan masih banyak lagi serangga yang lucu berkumpul dan mencari makan di sana. Bila matahari bersinar dengan cerah di setiap paginya, pak Joey akan membuka pintu peternakan dan membiarkan beberapa ekor kuda, kambing dan domba merumput di sana. Lapangan berumput hijau itu sangat luas, sehingga hewan-hewan ternak itu dapat bebas bermain, tidur-tiduran atau berlari-larian sesuka hati. Tapi tentu saja harus ada yang menjaganya. Bronndy, si anjing herder yang setia dan rajin selalu mengawasi mereka. Ia tahu dengan baik kemana saja hewan itu pergi bila ada yang mencoba menghilang atau tersesat.

Continue reading